joenkbaenk

selamat datang di duniakuuu ^_^

KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES SOSIAL, POLITIK DAN BUDAYA 10 Juni 2011

Filed under: koeliah cui! — fitri_aini_sy @ 05:16

Saat ini kita telah memasuki era yang disebut ”Revolusi Komunikasi” dari Daniel Lerner, ”Masyarakat Pasca Industri” (The Post Industrial Society) dari Daniel Bell, ”Abad Komunikasi” atau ”Gelombang Ketiga” (The Third Wave) dari Alvin Toffler. Salah satu ciri yang menyertai berbagai sebutan era dari para ahli tersebut adalah penggunaan alat komunikasi sebagai media yang sangat penting di dalam pergaulan manusia. Globalisasi sendiri telah memporakporandakan sebuah negara yang berusaha mengisolasi diri dari pergaulan dunia, bahkan Marshall McLuhan mengatakan bahwa kita telah memasuki Global Village (kampung global).

Global Village artinya dunia diibaratkan sebuah kampung dengan suatu ciri apa yang terjadi di sebuah wilayah negara dalam waktu singkat segera diketahui oleh negara lain. Sama persis suatu kejadian yang ada di sebuah sudut kampung dalam waktu singkat cepat diketahui oleh seluruh masyarakat di kampung tersebut.

Menurut Collin Cherry kasus semacam itu sering diistilahkan dengan ledakan komunikasi massa. Ledakan komunikasi massa ternyata membawa implikasi geografis dan geometris. Implikasi geografis artinya suatu negara pada akhirnya akan terseret arus pada jaringan komunikasi dunia. Sedangkan implikasi geometris adalah berlipatnya jumlah lalu lintas pesan yang dibawa dalam sistem komunikasi yang jumlahnya berlipat-lipat. Saat ini kita tidak bisa membayangkan bahwa satelit kita dilewati (menjadi perantara) banyak informasi dan pesan.

Berbagai perkembangan komunikasi tersebut sebenarnya merupakan proses yang terus menerus diperbaharui dari hari ke hari. Kalau dahulu sistem komunikasi dilakukan lewat pelayanan pos (Curtus Publicus) yang terjadi di kota Roma, kemudian berkembang menjadi lebih maju dengan ditemukannya telegraf satu abad sesudahnya, penemuan kristal transistor pada 1948, satelit dan saat ini sudah ada bentuk komunikasi yang semakin canggih dengan menggunakan istilah electronic memory chips (chips) berupa peralatan mikro komputer.

Daniel Lerner, dalam tulisannya yang berjudul Technology, Communication, and Change pada 1976, mencatat lima revolusi komunikasi yang pernah terjadi di dunia sebelum tahun 1975. Lima revolusi komunikasi tersebut yakni sebagai berikut.

Teknologi Media Rentang waktu ke tahun 1975
Mesin cetak cetakan + 500 tahun
Kamera atau film visual 100 tahun
Transmitter atau tabung hampa audio 50 tahun
Transistor atau tabung gambar audio visual 20 tahun
Satelit Jaringan dunia pertama 10 tahun

Setiap revolusi komunikasi berbeda rentang waktunya. Seperti, antara revolusi pertama ke revolusi kedua membutuhkan waktu lebih dari 400 tahun. Waktu selama empat abad itu dibutuhkan untuk mengembangkan sebuah kelas sosial yang bisa memanfaatkan teknologi cetak tersebut.

Di Indonesia perkembangan tersebut juga terasa sekali. Komunikasi antarpersona yang dahulu menjadi andalan dalam proses komunikasi lambat laun posisinya sudah tergeser oleh media radio dan surat kabar yang digunakan untuk alat perjuangan. Kemudian tergeser oleh peran media televisi ketika di tanah air sudah ada siaran televisi pada 1962.

Pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana kaitan antara realitas komunikasi tersebut dengan sosial, budaya, dan politik? Atau dengan kata lain bagaimana komunikasi bisa dijelaskan sebagai proses sosial, budaya, dan politik?

A. Hakikat Proses Sosial

Studi tentang peranan komunikasi dalam proses sosial banyak dikaitkan dengan asumsi-asumsi bahwa perubahan sosial (social change) dapat disebabkan karena komunikasi. Para ahli umumnya menitikberatkan perhatiannya pada studi tentang efek komunikasi. Para pakar dari berbagai disiplin ilmu sangat percaya bahwa komunikasi merupakan sebuah kekuatan yang bisa digunakan secara sadar untuk mempengaruhi dan mengubah perilaku masyarakat, terutama dalam menerima gagasan-gagasan baru dan teknologi baru.

Arifin mencatat bahwa keyakinan tersebut telah menyebabkan berkembangnya kajian tentang difusi. Sesungguhnya kajian difusi ini telah dilakukan oleh Lazarsfeld, Barelson, dan Gandet, tahun 1948, yang berkembang tahun 1955. Para pakar psikologi ini menemukan bahwa peranan yang dimainkan oleh media massa dalam mempengaruhi khalayak sangat kecil, bila dibandingkan dengan komunikasi langsung.

Lain lagi yang dicatat Wilbur Schramm dan Daniel Lezner bahwa konsep difusi dan adopsi inovasi pada akhirnya melandasi terjadinya dua revolusi besar yang melanda Dunia Ketiga, yakni revolusi hijau dan revolusi pengendalian penduduk.

Pada masa yang akan datang, masalah difusi dan inovasi terasa masih sangat urgent atau penting. Bukan saja diharapkan masyarakat dapat menerima dan menyebarkan inovasi pembangunan, tetapi juga mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses perubahan sosial yang direncanakan (development).

Santoso S. Hamijoyo mengemukakan konsep tentang komunikasi partisipatoris di mana partisipasi masyarakat secara sadar, kritis, sukarela, murni, dan bertanggungjawab memang baik. ”Baik” bukan sekedar karena bahwa dengan demikian ada kemungkinan biaya pembangunan menjadi murah, tetapi ”baik” karena memang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar membangun masyarakat, bangsa, dan negara.

Kendala partisipasi tersebut, menurut Santoso S. Hamijoyo, bukan hanya karena tingkat pendidikan dan peradaban, tetapi juga karena sulitnya pelaksanaan partisipasi masyarakat. Dengan kata lain, kendala partisipasi tersebut lebih banyak bersumber dari kurangnya kemauan atau itikad baik, komitmen moralitas dan kejujuran dari sebagian para komunikator, pemimpin dan penguasa, baik di kalangan pemerintah, swasta, maupun masyarakat dari semua tingkatan.

Maka dari itu, masalah komunikasi pembangunan bukan hanya menyangkut bagaimana melakukan transformasi ide dan pesan melalui penyebaran informasi. Difusi dan inovasi merupakan problem struktural. Artinya, penerimaan dan penyebarluasan ide baru tersebut sangat tergantung pada sifat atau karakteristik lapisan masyarakat (stratifikasi sosial).

Pada pertemuan ini akan dibahas bagaimana perubahan sosial terjadi secara teoritis, bagaimana persoalan-persoalan komunikasi yang muncul di dalam perubahan sosial tersebut; serta contoh-contoh kasus dalam konteks keindonesiaan.

B. Komunikasi dan Perubahan Sosial

Jurnal Komunikasi Audientia, Vol. I, 2 April – Juni 1993, menurunkan tulisan Bruce H. Westley. Ia sudah sejak lama menekuni pemikiran di sekitar komunikasi sebagai domain perubahan sosial. Dalam buku Process and Phenomena of Social Change pada 1978, Westley menulis panjang lebar tentang komunikasi dan perubahan sosial.

Beberapa asumsi yang mendasari kajian perubahan sosial di mana komunikasi terlibat di dalamnya antara lain: pertama, bahwa proses komunikasi menghasilkan perubahan-perubahan pengertian. Hal itu bukan saja terjadi secara individual, bahkan bisa bersifat sistemik. Young Yun Kim mendefinisikan komunikasi sebagai pertukaran informasi di antara dua sistem yang mengatur dirinya sendiri. Kedua, pertukaran informasi mempunyai tujuan pendidikan, hiburan, persuasi, dan sebagainya. Melalui proses inilah teori pembelajaran sosial melihat bahwa setiap manusia memiliki suatu sikap atau nilai atau pandangan tertentu terhadap dunianya. Sebaliknya, dunia sekitarnya membangun dan mempengaruhi persepsi kita. Peranan media massa dalam hubungannya dengan teori pembelajaran sosial tersebut bisa mengisi keempat proses yang diajukan oleh Albert Bandura, yakni proses memperhatikan, proses mengingatkan kembali, proses gerakan untuk menciptakan kembali, dan proses mengarahkan gerakan sesuai dorongan.

Ketiga, bahwa dalam proses komunikasi terjadi sosialisasi nilai. Wilbur Schramm menyatakan bahwa kegiatan komunikasi juga dapat dilihat dari kedudukan fenomena dalam kehidupan sosial. Komunikasi pada dasarnya membuat individu menjadi bagian dari lingkungan sosial.

Hubungan yang terbentuk akibat informasi, jika memiliki pola (pattern), akan disebut sebagai instruksi atau perantara komunikasi. Rogers dan Kincaid menggambarkan terbentuknya suatu realitas sosial (social reality) akibat proses komunikasi, yakni berupa saling pengertian (mutual understanding), persetujuan bersama (mutual agreement), dan tindakan bersama (collective action).

Keempat, bahwa kegiatan komunikasi mempunyai efek yang spesifik. Teori komunikasi yang paling banyak membahas masalah efek adalah komunikasi massa, khususnya efek media. Horton Cooley sejak awal abad ke-20 sudah mengatakan bahwa media massa dapat memanusiakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat, dalam menanggapi persoalan-persoalan baru, dan memberikan konteks umum dalam rangka pengambilan keputusan yang demokratis serta menghentikan monopoli pengetahuan yang aristokratis (sebuah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh individu yang terbaik). Dalam pandangan strukturalisme, C. Wright Mills mengatakan sebaliknya bahwa kekuatan elite dalam mengontrol massa adalah dengan mengontrol ekses terhadap media massa.

Asumsi kelima, komunikasi telah terbukti sebagai cara yang efektif dalam penyebaran ide-ide baru kepada masyarakat yang terdiri atas inovasi. Kemudian, asumsi keenam ialah komunikasi merupakan cara penularan perilaku. Asumsi ketujuh bahwa motivasi berprestasi secara korelatif digunakan dengan cara memanfaatkan media massa. Asumsi kedelapan bahwa komunikasi memiliki keterbatasan dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan. Karena, komunikasi bukan satu-satunya komponen yang menentukan perubahan.

C. Komunikasi Sebagai Proses Sosial

Menurut Peter L. Berger, hubungan antara manusia dengan masyarakat berlangsung secara dialektis dalam tiga momen: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Berikut ini adalah penjelasannya.

  1. Eksternalisasi ialah proses penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Dimulai dari interaksi antara pesan iklan dengan individu pemirsa melalui tayangan televisi. Tahap pertama ini merupakan bagian yang penting dan mendasar dalam satu pola interaksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Yang dimaksud dalam proses ini ialah ketika suatu produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar;
  2. Objektivasi ialah tahap di mana interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Pada tahap ini, sebuah produk sosial berada proses institusionalisasi, sedangkan individu memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivasi ini bertahan lama sampai melampaui batas tatap muka di mana mereka bisa dipahami secara langsung. Dengan demikian, individu melakukan objektivasi terhadap produk sosial, baik penciptanya maupun individu lain. Kondisi ini berlangsung tanpa harus mereka saling bertemu. Artinya, proses ini bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang di masyarakat melalui diskursus opini masyarakat tentang produk sosial, dan tanpa harus terjadi tatap muka antarindividu dan pencipta produk sosial;
  3. Internalisasi ialah proses di mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Terdapat dua pemahaman dasar dari proses internalisasi secara umum; pertama, bagi pemahaman mengenai ‘sesama saya’ yaitu pemahaman mengenai individu dan orang lain; kedua, pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial.

Kenyataan yang berhadapan antara masyarakat dengan manusia ada hubungan saling mempengaruhi tersebut dibangun tak lain dengan proses komunikasi. Artinya, komunikasi dalam hal ini, adalah sebuah proses sosial di masyarakat. Proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai kehidupan bersama. Dalam hubungannya dengan proses sosial, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam usahanya melakukan perubahan. Namun begitu, komunikasi juga tak akan lepas dari konteks sosialnya. Dapat dikatakan bahwa ia akan diwarnai oleh sikap, perilaku, norma, dan pranata masyarakatnya. Jadi antara komunikasi dan proses sosial saling melengkapi dan saling mempengaruhi. Seperti halnya, hubungan antara manusia dengan masyarakat yang dikemukakan Berger di atas.

Goran Hedebro mengamati hubungan antara perubahan sosial dengan komunikasi, berikut adalah hasil pengamatannya:

  1. Teori komunikasi mengandung makna pertukaran pesan. Tidak ada perubahan dalam masyarakat tanpa peran komunikasi. Dapat dijelaskan bahwa komunikasi hadir pada semua upaya yang bertujuan membawa ke arah perubahan.
  2. Meskipun komunikasi hadir dengan tujuan membawa perubahan, namun ia bukan satu-satunya alat yang dapat membawa perubahan sosial. Komunikasi hanyalah salah satu dari banyak faktor yang menimbulkan perubahan masyarakat.
  3. Media yang digunakan dalam komunikasi berperan melegitimasi bangunan sosial yang ada. Media adalah pembentuk kesadaran yang pada akhirnya menentukan persepsi orang terhadap dunia dan masyarakat sebagai tempat mereka hidup.
  4. Komunikasi adalah alat yang luar biasa guna mengawasi salah satu kekuatan penting masyarakat; konsepsi mental yang membentuk wawasan orang mengenai kehidupan. Mereka yang berada dalam posisi mengawasi media, bisa menggerakkan pengaruh yang menentukan menuju arah perubahan sosial.

Komunikasi sebagai proses sosial adalah bagian integral dari masyarakat. Secara garis besar komunikasi sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

  • Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen masyarakat. Komponen di sini tidak hanya individu dan masyarakat saja, tetapi juga lembaga-lembaga sosial (pers, humas, universitas), asosiasi pers, asosiasi humas, organisasi desa, dan berbagai lembaga lainnya. Bentuk lembaga tersebut dapat dipertahankan dan tidak sangat tergantung dari peran komunikasi. Jika dalam musyawarah anggota memutuskan suatu asosiasi bubar, tentu tidak dapat dipertahankan lagi.
  • Komunikasi membuka peradaban (civilization) baru bagi manusia. Menurut Koentjaraningrat istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian dan ilmu pengetahuan. Komunikasi telah mengantarkan peradaban negara Barat menjadi maju dalam ilmu pengetahuan.
  • Komunikasi ialah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat. Berbagai nilai (value),  norma (norm), peran (role), cara (usage), kebiasaan, tata kelakuan, dan adat dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan akan dikontrol dengan komunikasi, baik melalui bahasa lisan maupun perilaku nonverbal individu.
  • Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan di dalam sosialisasi nilai ke masyarakat. Misalnya saja, bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepada generasi muda dengan menggunakan contoh perilaku orang tua dan nasihat langsung.
  • Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakan komunikasi. Komunikasi juga berarti mencerminkan identitas sosial individu tersebut di lingkungan masyarakat.

D. Komunikasi Sebagai Proses Budaya

Menurut Jalaluddin Rakhmat dan Deddy Mulyana, di dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, sekurang-kurangnya ada tiga pandangan terhadap komunikasi, yaitu:

  1. Komunikasi sebagai aktifitas simbolik

Ketika sedang berkomunikasi, kita biasanya menggunakan simbol-simbol bermakna yang diubah ke dalam kata-kata verbal (nonverbal) untuk diperagakan. Simbol-simbol komunikasi yang dimaksud dapat berbentuk tindakan, aktifitas, atau tampilan objek yang mewakili makna tertentu. Makna adalah persepsi, pikiran, atau perasaan yang dialami seseorang yang selanjutnya akan dikomunikasikan kepada orang lain.

  1. Komunikasi sebagai proses

Komunikasi merupakan aktifitas yang terjadi secara terus berlangsung, dinamis, dan berkesinambungan sehingga selalu mengalami perubahan.

  1. Komunikasi sebagai pertukaran makna

Makna adalah pesan yang dimaksudkan oleh pengirim dan diharapkan dimengerti pula oleh penerima. Permasalahannya adalah bagaimana setiap orang mampu membuat kata-kata menjadi bermakna.

Asumsi dasarnya adalah komunikasi merupakan suatu proses budaya. Artinya, komunikasi yang ditujukan pada orang atau kelompok lain adalah sebuah pertukaran kebudayaan. Misalnya, anda berkomunikasi dengan suku Aborigin Australia, secara tidak langsung Anda sedang berkomunikasi  berdasarkan kebudayaan tertentu milik Anda untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan lain. Dalam proses tersebut terkandung unsur-unsur kebudayaan, salah satunya ialah bahasa. Sedangkan bahasa adalah alat komunikasi. Maka, komunikasi juga disebut proses budaya.

Penggunaan Bahasa sebagai Unsur Budaya di dalam Proses Komunikasi

Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya. Dari definisi yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat, kita bisa melihat bahwa di dalam kebudayaan terdapat gagasan, budi, dan karya manusia yang akan menjadi kebudayaan setelah dipelajari terlebih dahulu oleh manusia. Wujud dari kebudayaan ialah sebagai berikut:

  • Wujud sebagai suatu kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia;
  • Wujud sebagai suatu kompleks aktivitas manusia;
  • Wujud sebagai benda;
  • Maka, wujud kebudayaan secara operasional bisa terbagi menjadi beberapa unsur yang terangkum dalam cultural universal, mencakup: peralatan dan perlengkapan kehidupan manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa (lisan maupun tertulis), kesenian, sistem pengetahuan, sistem kepercayaan atau religi.

Dalam konteks komunikasi sebagai proses budaya, kita tidak terlepas dari penggunaan bahasa verbal dan nonverbal. Bahasa verbal dan nonverbal yang digunakan manusia dalam mengadakan kontak dengan lingkungannya memiliki kesamaan antara lain:

  • Menggunakan sistem lambang;
  • Merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh individu manusia;
  • Orang lain juga memberikan arti pada simbol yang dihasilkan tadi.

Sehingga terjadi proses saling memberikan arti pada simbol-simbol yang disampaikan oleh individu-individu yang saling berkomunikasi. Tanda atau simbol merupakan alat yang digunakan dalam interaksi. Pembahasan mengenai simbol harus diawali dengan konsep ‘tanda’ (sign). Tanda dapat disebut sebagai unsur yang digunakan untuk mewakili unsur lain. Dari tanda dan simbol tersebut, kita memberikan makna. Setiap orang akan memberikan makna berdasarkan pengalaman pribadinya. Manusia dapat memiliki makna sama hanya ketika mereka mempunyai pengalaman yang sama atau dapat mengantisipasi pengalaman-pengalaman yang sama.

Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami apabila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter (semaunya). Contoh: terhadap buah pisang orang Sunda menyebutnya cau dan orang jawa menyebutnya gedang. Kemudian definisi bahasa secara formal ialah semua kalimat yang terbayangkan dan bisa dibuat menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa bisa dikatakan mempunyai tata bahasanya sendiri.

Dalam studi kebudayaan, bahasa ditempatkan sebagai sebuah unsur penting selain unsur-unsur lain, seperti sistem pengetahuan, mata pencaharian, adat istiadat, kesenian, dan sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa bisa dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang membentuk non-material selain nilai, norma, dan kepercayaan. Bahasa merupakan komponen budaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan kita, perilaku kita, perasaan, dan kecenderungan kita untuk bertindak menanggapi lingkungan kita. Atau dengan kata lain, bahasa mempengaruhi kesadaran kita, aktivitas, dan gagasan kita, benar atau salah, moral atau tidak bermoral, serta baik atau buruk. Bahasa dari suatu budaya berbeda dengan bahasa dari budaya lain dan bahasa dari sebuah subkultur tertentu berbeda dengan bahasa dari subkultur yang lain.

E. Komunikasi di dalam Sistem Politik

Sebagaimana diketahui konsep komunikasi politik di dalam ilmu politik telah mengalami perkembangan dalam pengertiannya. Gabriel Almond pernah mengkategorikannya sebagai salah satu dari empat fungsi input sistem politik. Kemudian Alfian, di dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia, menjadikan komunikasi politik sebagai penyebab bekerjanya semua fungsi dalam sistem politik. Komunikasi politik diibaratkan sebagai sirkulasi darah di dalam tubuh. Bukan darahnya, tapi apa yang terkandung di dalam darah itu yang menjadikan sistem politik itu hidup. Lebih lanjut Alfian menjelaskan komunikasi politik, sebagai layaknya darah, mengalirkan pesan-pesan politik berupa tuntutan, protes, dan dukungan yang berupa aspirasi dan kepentingan, untuk dibawa ke jantung sebagai pusat pemrosesan sistem politik. Lalu hasil pemrosesan itu disimpulkan dalam bentuk fungsi-fungsi output untuk dialirkan kembali oleh komunikasi politik yang selanjutnya menjadi feedback di dalam sistem politik.

Dengan kata lain, komunikasi politik menyambungkan semua bagian dari sistem politik dan juga masa kini dengan masa lampau, sehingga dengan demikian aspirasi dan kepentingan dikonversikan menjadi berbagai kebijakan. Apabila komunikasi itu berjalan lancar, wajar, dan sehat, maka sistem politik itu akan mencapai tingkat kualitas responsif yang tinggi terhadap perkembangan aspirasi dan kepentingan masyarakat serta tuntutan perubahan zaman. Hal itu biasanya terjadi pada suatu sistem politik yang mampu mengembangkan kapasitas dan kapabilitasnya secara terus-menerus.

Bagaimana komunikasi politik menyambungkan seluruh bagian dari sistem politik? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan contoh berikut ini. Orang tua, sekolah, pemuka agama, dan tokoh masyarakat melalui komunikasi politik menanamkan nilai-nilai ke dalam masyarakat. Para pemimpin organisasi politik dan kelompok kepentingan mengkomunikasikan aspirasi dan kepentingan masyarakat sebagai kehendak mereka serta rekomendasi kebijakan untuk memenuhinya. Setelah menerima informasi dari berbagai pihak, mereka yang bertugas melaksanakan fungsi legislatif membuat undang-undang yang dianggap perlu dan relevan, yang kemudian dikomunikasikan kepada pihak yang berwenang untuk melaksanakannya. Proses pelaksanaannya dikomunikasikan kepada masyarakat dan dinilai oleh masyarakat sehingga penilaian itu dikomunikasikan lagi. Dalam seluruh proses komunikasi politik, media massa baik cetak maupun elektronik, memainkan peran penting, selain saluran-saluran lainnya seperti tatap muka, surat-menyurat, media tradisional, organisasi, keluarga, dan kelompok pergaulan.

Sebagaimana bisa ditinjau, pada setiap bagian dari sistem politik terjadi komunikasi politik, mulai dari proses penanaman nilai (sosialisasi politik atau pendidikan politik) sampai kepada pengartikulasian dan penggabungan aspirasi dan kepentingan, terus kepada proses pengambilan kebijakan, pelaksanaan, dan penghakiman terhadap kebijakan tersebut. Tiap-tiap bagian atau tahap-tahap itu disambungkan pula oleh komunikasi politik.

Demikianlah, secara simultan, timbal-balik, vertikal maupun horizontal dalam suatu sistem politik yang handal, sehat, dan demokratis, komunikasi politik terjadi pada setiap bagian dari keseluruhan sistem politik. Sistem politik seperti itu sudah berhasil menjadikan dirinya sistem politik yang mapan dan handal, yakni sistem politik yang memiliki kualitas kemandirian yang tinggi untuk mengembangkan dirinya secara kontinyu. Itulah sistem politik yang sudah tinggal landas secara self-sustainable.

Lebih jauh bisa digambarkan peranan penting komunikasi politik dalam memelihara dan meningkatkan kualitas kehandalan suatu sistem politik yang sudah mapan. Ia berperan penting sekali dalam memelihara dan mengembangkan budaya politik yang ada dan berlaku yang telah menjadi landasan yang mantap dari sistem politik yang mapan dan handal itu. Komunikasi politik mentransmisikan nilai-nilai budaya politik yang bersumber dari pandangan hidup atau ideologi bersama masyarakatnya kepada generasi baru (anak-anak, remaja, dan pemuda, termasuk mahasiswa) dan memperkuat proses pembudayaannya dalam diri generasi yang lebih tua. Maka dari itu, budaya politik mampu terpelihara dengan baik, bahkan mungkin berakar dan terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bersamaan dengan itu, komunikasi politik bisa menyatu dan menjadi bagian integral dari budaya politik tersebut. Komunikasi politik berakar, hidup, dan berkembang bersama-sama dengan budaya politiknya.

F. Komunikasi sebagai Proses Politik

Dengan komunikasi, maka realitas, sejarah, tradisi politik bisa dihubungan dan dirangkaikan dari masa lalu untuk dijadikan acuan ke masa depan. Dengan komunikasi sebagai proses politik, berbagai tatanan politik berubah sesuai dengan tuntutan masyarakat akan berubah. Misalnya, tradisionalisme. Berbagai adopsi tradisi luar juga tidak akan mudah diterima begitu saja dan suatu saat akan mengalami kegagalan seandainya bertentangan dengan tradisi yang sudah ada. Ada beberapa catatan yang bisa ditarik ketika kita memperbincangkan komunikasi sebagai proses politik, yakni sebagai berikut:

  1. Komunikasi memiliki peran signifikan dalam menentukan proses perubahan politik di Indonesia. Ini bisa dilihat dari perubahan format lembaga kepresidenan yang dahulunya sakral kemudian menjadi tidak sakral. Ini semua diakibatkan terbinanya komunikasi politik yang baik antara masyarakat dan pemerintah.
  2. Kita pernah mewarisi komunikasi politik yang tertutup sehingga mengakibatkan ideologi politik yang tidak terbuka. Kemudian timbul penafsiran ada pada pihak penguasa yang mendominasi dan mengontrol semua bagian, sehingga memunculkan hegemoni dan pola atau arus komunikasi top down yang indoktrinatif.
  3. Komunikasi masih dipengaruhi oleh tradisi politik masa lalu. Tradisi politik yang mementingkan keseimbangan, harmoni, dan keserasian masih diwujudkan meskipun dalam kenyataannya tradisi itu justru dijadikan alat legitimasi politik penguasa atas nama stabilitas. Keterpengaruhan ini juga termanifestasikan pada budaya sungkan yang masih kental dalam tradisi komunikasi kita.
  4. Sebagai proses politik, komunikasi menjadi alat yang mampu untuk mengalirkan pesan politik (berupa tuntutan dan dukungan) ke pusat kekuasaan untuk diproses. Proses itu kemudian dikeluarkan kembali dan selanjutnya menjadi umpan balik. Ini artinya, komunikasi sebagai proses politik adalah aktivitas tanpa henti.

Daftar Pustaka

Nurudin. 2004. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Rajawali Press

Panuju, Redi. 1997. Sistem Komunikasi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rakhmat, Jalaluddin, dan Deddy Mulyana. 2003. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Rosdakarya.

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.